Gelar Fiber Optik, Indonesia Minim SDM Siap Pakai

 


DetikINET.com - Jakarta - Rencana pemerintah menggelar fixed broaband di Indonesia bisa mengalami hambatan serius. Pasalnya, jumlah sumber daya manusia (SDM) lokal untuk mengimplementasikannya sangat terbatas. 

Kondisi ini diakui oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi Indonesia (Apjatel). Bahkan mereka sampai harus menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar bisa menghasilkan para SDM siap pakai untuk pembangunan broadband.

Apjatel sendiri bersama dengan Kemendikbud bekerja sama membuat program pelatihan implementasi jaringan berbasis kabel fiber optik untuk siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

"Latar belakang kerja sama ini didasari pada kondisi kesulitan para penyelenggara jaringan telekomunikasi untuk memperoleh tenaga siap pakai dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)," demikian keterangan Apjatel yang diterima detikINET, Selasa (12/1/2016).

Lebih lanjut disebutkan, perusahaan-perusahaan penyelenggara jaringan telekomunikasi yang tergabung dalam Apjatel harus mengeluarkan biaya lagi yang cukup besar untuk mempersiapkan para teknisi yang siap untuk melaksanakan tugas di lapangan.

Penyebab kesenjangan pasokan dan kebutuhan industri untuk teknisi yang siap tugas antara lain disebabkan oleh cepatnya laju perubahan perkembangan teknologi telekomunikasi yang mengarah menjadi teknologi yang konvergensi. 

Industri telekomunikasi, internet, dan penyiaran semakin mengerucut menjadi satu kesatuan atau berkonvergensi dalam layanan yang ditawarkan kepada masyarakat pengguna jasa. 

Hal ini semakin dimungkinkan dengan perubahan pada teknologi perangkat/terminal (gadget) bagi pengguna jasa yang semakin compact, handal dan terjangkau oleh masyarakat umum.

Dalam operasionalnya, konvergensi layanan memerlukan sarana infrastruktur yang memadai dan mampu menyediakan kapasitas bandwidth (lebar pita) yang besar, atau belakangan dipopulerkan oleh Menkominfo Rudiantara sebagai jalan tol informatika.

Penyediaan Jaringan pita lebar sudah ditetapkan sebagai target dari pemerintah dituangkan dalam bentuk Kepres No. 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pita Lebar Indonesia. 

Broadband pada akhir tahun 2019 ditargetkan menjangkau 70% rumah di perkotaan (urban) menggunakan jaringan fixed line untuk akses internet dengan kapasitas 20 Mbps, dan 47% rumah di pedesaan sudah harus tersedia jaringan fixed line untuk akses internet dengan kapasitas 10 Mbps.

Untuk dapat terwujudnya target kapasitas fixed line untuk akses internet ke rumah-rumah, diperlukan sarana infrastruktur jaringan telekomunikasi yang memadai, dan solusinya adalah melakukan penggelaran jaringan kabel fiber optik sampai ke lokasi rumah pelanggan baik di perkotaan, maupun pedesaan.

Itu sebabnya, para penyelenggara jaringan telekomunikasi memerlukan teknisi yang andal di bidang jaringan kabel fiber optik dalam jumlah yang cukup besar. Menyadari kondisi keterbatasan kemampuan para teknisi lulusan SMK saat ini, maka Apjatel melakukan program pelatihan bagi para Guru dari 90 SMK yang tersebar di 20 propinsi. 

Program Train of the Trainer (ToT) ini akan berlangsung selama enam sesi, dengan jangka waktu pelaksanaan per sesi selama 10 hari. Selain materi yang bersifat teori, dalam pelatihan ini juga para guru akan melakukan praktek lapangan pemasangan jaringan kabel optik dan latihan mengoperasikan perangkat-perangkat yang diperlukan dalam penyelenggaraan jaringan kabel fiber optik.

Dengan demikian diharapkan nantinya para guru akan dapat mengajarkan dan melatih siswanya, sehingga setelah lulus akan menjadi tenaga yang handal siap pakai oleh industri.

Ade Tjendra, Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga (Eksternal) Apjatel berharap dengan adanya program ini tidak ada lagi kesulitan bagi para penyelenggara jaringan telekomunikasi.

"Karena para siswa sudah dibekali oleh pengetahuan akan informasi, teknologi, serta komunikasi yang semakin berkembang oleh para pengajar yang kompeten di bidang ini. Hal ini juga merupakan wujud kontribusi positif Apjatel bagi dunia pendidikan dan dunia kerja di Indonesia," ujarnya.

Direktur Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mustaghfirin Amin menyatakan bahwa program pelatihan ini akan berkelanjutan nantinya di provinsi-provinsi dimana para guru berasal.

Dan sekolah mereka akan menjadi Training Center Jaringan IP Berbasis Jaringan Kabel Serat Optik yang akan dilengkapi peralatannya oleh Pemerintah c.q Direktorat Pembinaan SMK dan Pelatih dari Apjatel.

Tempat pelatihan pertama dipilih di lokasi SMKN 4 Purbaratu Tasikmalaya, Jawa Barat dengan pertimbangan prestasi sekolah tersebut yang telah berhasil membuat meja networks simulator untuk jaringan IP layer 1 sampai layer 7, dan produknya telah didaftarkan serta memperoleh sertifikat paten dari Kementerian Hukum dan HAM.


(rou/rou) 
Gelar Fiber Optik, Indonesia Minim SDM Siap Pakai Gelar Fiber Optik, Indonesia Minim SDM Siap Pakai Reviewed by Nala Meliala on Tuesday, January 12, 2016 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.